Inan56’s Weblog

September 23, 2008

PENGANTAR PARIWISATA bagian 2

Filed under: PENGANTAR PARIWISATA — by inan56 @ 1:20 pm

BAB II

 

GEJALA DAN PERKEMBANGAN PARIWISATA

 

 

1.      GEJALA PARIWISATA

 

A.     Kondisi –kondisi yang menimbulkan gejala pariwisata

 

Pariwisata merupakan gejala dari pergerakan manusia secara temporer dan spontan di dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan tertentu. Gejala-gejala tersebut mendorong dan menumbuhkan kegiatan-kegiatan dalam bidang konsumsi dan produksi barang dan jasa-jasa yang diperlukan oleh wisatawan.

 

Timbulnya keinginan wisatawa tersebut, biasanya timbul karena pengaruh kondisi dan sifat-sifat lingkungan dimana wisatawan tersebut berada. Kebutuhan atau keinginan ini kadang –kadang sangat mendalam. Misalnya : keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru, keinginan untuk melepaskan diri dari kekangan-kekangan dan lain – lain.

 

Faktor-faktor fisik lingkungan biasanya mempengaruhi langsung “sikap” dari wisatawan dan menumbuhkan motivasi tertentu. Motivasi ini merupakan dasar penyebab dari timbulnya kegiatan wisatawan yang sering disebut dengan dengan “motif  yakni motif perjalanan. Motif merupakan perwujudan konkrit dari keinginan-keinginan yang harus dipenuhi. Sebagai contoh : kehidupan santai, yaitu keinginan yang disebabkan oleh akibat kelelahan badan ,keresahan jiwa dan tekanan hidup di kota.

 

Motivasi dapat dibagi kedalam dua kelompok , yaitu :

¯   Motivasi yang disebabkan oleh adanya dorongan dari dalam jiwa dan kehidupan alami

¯   Motivasi yang disebabkan oleh adanya dorongan dari luar , yang disebabkan oleh kondisi lingkungan.

 

B.     Motivasi Perjalanan

 

Motivasi dan motif dari keinginan wisatawan ( tourist interest) belum terungkap secara jelas, apakah terdapat hubungan satu sama lainnya atau tidak.

Motivasi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan , memperlihatkan perubahan yang lebih jelas terhadap sikap wisatawan dibanding dengan motivasi yang disebabkan oleh dorongan dari dalam jiwa.

Motivasi –motivasi tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

 

  1. Motivasi yang disebabkan oleh dorongan dari dalam jiwa, yang berupa kebutuhan jiwa dan fisik.

 

 Kebutuhan utama (primer)       :

¯   Dorongan hati

¯   Kebutuhan jasmani

¯   Kebutuhan akan udara bersih

¯   Kebutuhan akan sinar matahari

¯   Kebutuhan akan kebebasan bergerak

¯   Kebutuhan untuk istirahat

 

Kebutuhan sekunder                 :

 

¯   Kebutuhan untuk kesenangan

¯   Kebutuhan untuk penguatan pribadi

¯   Kebutuhan untuk maju

¯   Kebutuhan untuk menikmati sesuatu

¯   Kebutuhan akan perlindungan

¯   Keingintahuan ( curiosity)

 

  1. Motivasi yang disebabkan dari luar jiwa

 

Keadaan lingkungan alam, berupa :

 

¯   Iklim

¯   Lingkungan yang kurang baik

¯   Pencemaran dan kerusakan lingkungan

¯   Rusaknya keseimbangan alam dan pemandangannya

¯   Kondisi negatif daru tempat tinggal

¯   Menurunya kondisi kesehatan

¯   Kebisingan dan bau lingkungan

¯   Pemandangan kota yang membosankan

¯   Kondisi sosial yang membosankan

 

 

 

 

Kondisi Sosial Budaya

 

¯   Langkanya fasilitas / sarana rekreasi

¯   Kegiatan masyarakat yang membosankan

¯   Tekanan dari kelompok masyarakat yang menuju kepada tata kehidupan yang teratur

¯   Kehidupan yang teratur

¯   Terlalu banyak atau sedikit kerja fisik atau mental

¯   Terlalu banyak atau sedikit kegiatan sosial

¯   Sifat bebas dari remaja

¯   Perkembangan sosial masyarakat

¯   Perbedaan sosial di dalam masyarakat

 

Kondisi dan Keadaan Ekonomi

 

¯   Konsumsi yang tinggi dari masyarakat

¯   Biaya hidup yang tinggi di tempat

¯   Tingkat daya beli yang tinggi

¯   Meningkatnya kehidupan mewah

¯   Adanya kemudahan dalam peminjaman uang

¯   Meningkatnya waktu luang

¯   Penurunan dan rendahnya pajak

¯   Penurunan dan rendahnya ongkos angkutan

 

Kegiatan Pariwisata

 

¯   Meningkatnya kegiatan tourist publicity

¯   Meningkatnya penyebaran informasi pariwisata

¯   Prestise sosial dari pariwisata

 

Dari uraian-uraian di atas, jelas bahwa motivasi baik yang disebabkan oleh dorongan dari dalam jiwa maupun sebagai pengaruh dari lingkungan, merupakan dasar utama yang menyebabkan seseorang berkeinginan untuk melakukan perjalanan wisata. Pada saat ini, terutama di negara- negara yang telah maju, melakukan perjalanan wisata merupakan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

 

 

 

 

Ada beberapa alasan bagi orang –orang tertentu, yang tidak dapat melakukan perjalanan secara intensif, atau sama sekali tidak dapat melakukan perjalanan. Alasan – alasan yang merupakan faktor tidak atau sama sekali tidak melakukan perjalanan antara lain disebabkan :

 

Alasan biaya untuk melakukan perjalanan

 

Setiap menusia selalu dihadapkan kepada masalah keuangan, dan melakukan perjalanan selalu memerlukan tersedianya uang.

 

Alasan ketiadaan waktu

 

Halangan ketiadaan waktu, pada umumnya merupakan alasan bagi kebanyakan orang yang tidak dapat meninggalkan pekerjaannya, profesinya atau kegiatan usahanya.

 

Alasan kondisi kesehatan

 

Gangguan kesehatan atau kelemahan fisik seseorang , sering merupakan hambatan atau halangan untuk melakukan perjalanan. Sebagai contoh : orang-orang lanjut usia lebih banyak tinggal dirumah daripada melakukan perjalanan dikarenakan kondisi pisik dan kesehatan yang tidak mengizinkan.

 

Alasan keluarga

 

Keluarga yang mempunyai anak-anak yang masih kecil dan banyak., sering merupakan hambatan atau halangan bagi seseorang yang melakukan perjalanan, yang disebabkan oleh adanya beban dan kewajiban untuk memelihara anak-anaknya.

 

Alasan tidak ada minat

 

Yang menimbulkan ketiadaan minat seorang untuk melakukan perjalanan, antara lain karena kurangnya pengetahuan tentang daerah-daerah tujuan wisata yang menarik, yang disebabkan kelangkaan dan kurangnya informasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C.     Klasifikasi motif perjalanan

 

Motif –motif dari tourist interest, yang berupa perwujudan konkrit dari keinginan-keinginan, dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

 

1). Motif perjalanan untuk menikmati atraksi –atraksi wisata berupa :

a.      Atraksi alam

¯   Pemandangan

¯   Laut

¯   Pantai

¯   Pegunungan

¯   Sinar matahari

¯   Flora

¯   Fauna

b.      Atraksi sosial budaya

¯   Atraksi sejarah

¯   Atraksi kesenian

¯   Cara hidup masyarakat

¯   Yang berkaitan dengan kehidupan politik

¯   Yang berkaitan dengan antropologi

¯   Yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan

¯   Yang berkaitan dengan keagamaan

           

c.       Atraksi yang berkaitan dengan pendidikan

 

¯   Kebudayaan umum

¯   Kehidupan dan mempelajari ilmu di perguruan

¯   Mengikuti seminar

 

d.      Atraksi perdagangan , berupa :

 

¯   Berbelanja ( shopping)

¯   Mengunjungi  pameran, pekan raya

¯   Konferensi, rapat, pertemuan, seminar, dll.

 

 

 

 

 

  1. Motif kedua berupa penjelmaan dalam aspirasi-aspirasi , seperti :

 

a.      Melalui rekreasi pisik, untuk tujuan :

¯   Kesehatan

¯   Olah Raga

¯   Hidup diudara terbuka, air, laut, pegunungan

¯   Istirahat

¯   Melakukan kegiatan-kegiatan

¯   Pemuasan hati

 

b.      Melalui rekreasi spiritual :

 

¯   Merenung-renung

 

Disamping tipe-tipe diatas, tipe pariwisata lainnya dapat disebutkan : pariwisata marina, pariwisata rimba, pariwisata remaja, pariwisata berburu dan lain-lain.

 

D.    Bentuk –bentuk Pariwisata ( The form of tourism )

 

Pengelompokan pariwisata menurut bentuknya berdasarkan pada lama kunjungan dan efek ekonomi dari pariwisata yang diperinci sebagai berikut :

 

  1. Pariwisata Perorangan ( individual) dan kolektif ( organized)

 

Yang dimaksud dengan pariwisata perorangan (individual) adalah dimana seorang wisatawan atau satu group wisatawan yang dalam melakukan perjalanan dengan cara mengatur sendiri. Mereka mengatur tentang programnya, menentukan tujuan, dan mengatur kebutuhan-kebutuhan selama perjalanan.


Sedangkan yang dimaksud dengan dengan pariwisata yang diorganisir ( organized tourism) adalah para wisata dimana cara pengaturan perjalanannya , baik program maupun penentuan waktunya dilaksanakan oleh travel agent atau tour operator.

 

  1. Pariwisata jangka pendek dan jangka panjang

 

Yang dimaksud dengan pariwisata jangka pendek dimana lama perjalanannya diantara satu minggu sampai sepuluh hari.

 

 

 

 

 

2. PERKEMBANGAN PARIWISATA

 

    Pariwisata berkembang sesuai dengan perkembangan sosial budaya masyarakat. Oleh karena itu pariwisata telah ada sejak adanya motivasi yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Motivasi dan motif perjalanan dari jaman ke jaman berbeda-beda tingkatannya, sesuai dengan perkembangan dan tingkat sosial budaya , ekonomi dan lingkungan dari masyarakat itu sendiri.

 

Motivasi dan motif perjalanan masyarakat pada jaman pra sejarah berbeda dengan motivasi dan motif perjalan masyarakat pada jaman modern.

 

Cara perjalanan dan fasilitas yang digunakan masyarakat masih sederhana kebutuhannya berbeda dengan masyarakat yang lebih maju. Motivasi, motif dan cara perjalanan masyarakat pada jama Majapahit berbeda dengan masyarakat Indonesia pada saat ini.

 

World Tourism Organization , secara sepintas membagi perkembangan atau sejarah pariwisata ini ke dalam 3 ( tiga) jaman, yakni :

¯   Jaman Kuno

¯   Jaman pertengahan dan

¯   Jaman modern

 

A.     Zaman Kuno

 

Pariwisata pada zaman kuno, ditandai oleh motif perjalanan yang masih terbatas dan sederhana, yaitu:

 

¯   Adanya dorongan karena kebutuhan praktis dalam bidang politik dan perdagangan

¯   Dambaan ingin mengetahui adat istiadat dan kebiasaan orang lain atau bangsa lain

¯   Dorongan yang berhubungan dengan keagamaan, seperti melakukan ziarah dan mengunjungi tempat-tempat ibadat.

 

·        Sarana dan fasilitas yang digunakan selama perjalanan, pada zaman kuno inipun masih sederhana. Alat angkutan dengan menggunakan binatang, seperti kuda, onta, atau perahu-perahu kecil yang menyusuri pantai merupakan alat transportasi yang paling popular.

·        Akan tetapi perjalanan dengan jalan kaki untuk menempuh jarak berpuluh-puluh atau beratus-ratus kilometer paling banyak dilakukan.

 

·        Contoh perjalanan pada zaman kuno : seperti yang dilakukan oleh pedagang – pedagang Arab ke Cina untuk membeli barang berharga, pedagang Yunani ke Laut Hitam, pedagang Vinisia ke Afrika. Perjalanan kaum Buddhis Cina ke India, kaum Muslimin yang melakukan ibadah Haji ke Mekkah atau kaum Nasrani ke Yerusalem.

 

·        Badan atau organisasi yang mengatur jasa – jasa perjalanan pada jaman ini belum ada. Pengaturan perjalanan ditentukan secara individu, baik oleh perorangan atau kaum-kaum. Akomodasi yang digunakan masih sederhana. Para pelancong membangun tenda-tenda sendiri, atau tinggal di rumah-rumah saudagar, pemuka-pemuka masyarakat, pemuka agama atau tempat-tempat beribadah, seperti mesjid dan gereja. Akomodasi yang dikelola secara komersil belum ada.

 

 

B.     Zaman Pertengahan

 

·        Motivasi dan motif perjalanan pada abad pertengahan , lebih luas dari motivasi dan motif perjalanan pada jaman kuno. Disamping motif perjalanan untuk keperluan perdagangan, keagamaan dan dambaan ingin tahu, pada jaman ini telah berkembang motif untuk tujuan yang berhubungan dengan kepentingan negara (mission) dan motif untuk menambah pengetahuan.

·        Para pedagang tidak lagi melakukan pertukaran secara barter. Para pedagang cukup dengan membawa contoh barang yang ditawarkan melalui pekan-pekan raya perdagangan. Seperti di St. denis, Champagne atau Aix-la-Cappalle.

·        Untuk menjaga hubungan antar negara, baik negara penjajah maupun yang dijajah atau antar negara merdeka, dilakukan saling kunjungan petugas-petugas negara.

·        Pada jaman pertengahan telah ada perguruan-perguruan Tinggi seperti Al Azhar di Kairo, di Paris, Roma, Salamanca, dll. Para mahasiswa dari berbagai negara melakukan kunjungan ke universitas-universitas ini untuk menamban memperdalam pengetahuannya, dengan mendengarkan kuliah-kuliah yang diberikan oleh guru-guru besar.

·        Dengan semakin banyaknya yang melakukan perjalanan antar engara, berbagai negara mulai mengeluarkan peraturan-peraturan, guna melindungi kepentingan negara dan pendudukanya serta kepentingan para wisatawan.

·        Akomodasi yang bersifat komersil mulai bermunculan walaupun masih sederhana. Demikian pula restoran –restoran, yang menyediakan makanan untuk keperluan para pelancong.

·        Alat angkut tidak hanya dengan menunggan kuda, keledai atau onta, tetapi telah meningkat dengan menambah kereta yang ditarik kuda atau keledai. Angkutan laut telah menggunakan kapal-kapal yang lebih besar.

 

 

 

 

 

C.     Jaman Modern

 

·        Perkembangan pariwisata pada jaman modern, ditandai dengan semakin beraneka ragamnya motif dan keinginan wisatawab yang harus dipenuhi, sebagai akibat meningkatnya budaya manusia.

·        Formalitas atau keharusan  para pelancong untuk membawa identitas diri bila mengunjungi suatu negara mulai diterapkan.

·        Tempat –tempat penginapan (akomodasi) yang dikelola secara komersil tumbuh dengan subur. Fasilitas yang digunakan semakin lengkap.

·        Timbulnya revolusi industri di negara –negara Barat telah menciptakan alat angkut yang sangat penting dalam perkembangan pariwisata. Diketemukannya mesin uap, mulai diperkenalkan angkutan kereta api dan kapal uap, dan menggantikan alat angkut yang menggunakan binatang.

·        Perkembangan selanjutnya ditemukan alat angkut yang mengguna mesin motor, yang jauh lebih cepat dan fleksibel dalam angkutan melalui darat. Teknologi mutakhir yang sangat penting dalam jaman modern adalah dengan digunakannya angkutan udara, yang dapat menempuh jarak jauh dalam waktu yang lebih cepat.

·        Sejak permulaan abad modern, ditandai pula oleh adanya badan atau organisasi yang menyusun dan mengatur perjalanan.

 

Pada tahap selanjutnya badan atau organisasi ini memegang peranan penting sebagai pengatur / penyelenggara perjalanan, juga sebagai perantara dari wisatawan dan pemasok (industri wisata). Dan berubah menjadi suatu usaha komersil di bidang industri wisata yang sangat dominan. Yang disebut dengan Biro Perjalanan Umum (BPU).

 

 

September 17, 2008

ILMU PARIWISATA

Filed under: PENGANTAR PARIWISATA — by inan56 @ 4:19 pm

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

Gejala pariwisata telah ada semenjak adanya perjalanan manusia dari suatu tempat ke tempat lain, selain dimana ia tinggal menetap. Semenjak itu pula ada kebutuhan –kebutuhan manusia yang harus dipenuhi selama perjalanannya.

 

Dengan meningkatkan peradaban manusia, dorongan untuk melakukan perjalanan, semakin kuat, kebutuhan yang harus dipenuhi semakin komplek. Pada saat ini melakukan perjalanan wisata telah merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi.

 

Manfaat – manfaat dan peranan pariwisata, bagi suatu wilayah , negara maupun internasional sudah banyak diakui. Sehingga pariwisata telah menjadi salah satu bidang yang cukup penting di samping bidang –bidang lainnya, seperti bidang pertanian, pertambanggan, industri, politik dan sosial budaya.

 

Namun demikian , pengembangan pariwisata relatif masih baru dibanding dengan bidang –bidang lainnya yang telah disebutkan diatas. Adalah menjadi tantangan para ahli pariwisata untuk terus menggali, meneliti dan memikirkan sejauh mana pariwisata akan menjadi suatu disiplin ilmiah yang berdiri sendiri.

 

 

 

BEBERAPA PENGERTIAN POKOK

 

Untuk membicarakan pariwisata, ada beberapa pengertian pokok yang terlebih dahulu perlu diketahui. Kegunaan dari suatu batasan adalah sebagai titik tolak pembahasan.

Istilah – istilah yang diberikan untuk batasan –batasan dalam buku ini adalah :

1.      Pariwisata ( Tourism )

2.      Wisatawan ( Tourist)

3.      Produk Wisata

4.      Atraksi Wisata

5.      Sarana Wisata

6.      Prasarana Wisata

 

 

 

 

 

 

1.      Pariwisata ( tourism)

 

Arti dari istilah pariwisata belum banyak diungkapkan oleh para ahli bahasa dan pariwisata di Indonesia.

Yang jelas kata pariwisata berasal dari bahasa Sangsakerta , terdiri dari dua suku kata, yaitu “ pari” dan “ wisata” . Pari berarti banyak, berkali-kali atau berputar-putar, sedangkan wisata berarti perjalanan atau bepergian. Jadi pariwisata berarti perjalanan yang dilakukan secara berkali-kali atau berkeliling.

 

Dalam Bahasa Inggris untuk Pariwisata digunakan istilah “ Tourism”.

 

Menurut seorang Ahli Ekonomi berkebangsaan Austria Norval, Pariwisata atau Tourism adalah “ the sum total of operations, mainly of an economic nature which directly relate to the entry, stay and movement of foreigners inside and outside a certain country, city or region.” ( Pariwisata adalah keseluruhan kegiatan, yang berhubungan dengan masuk, tinggal dan pergerakkan penduduk asing di dalam atau di luar suatu negara, kota atau wilayah tertentu.)

 

Definisi pariwisata yang lebih lengkap dikemukakan oleh Prof. Hunziker dan Kraft (1942) sebagai berikut : “ Tourism is the totality of relationships and phenomena arising from the travel and stay of strangers, provided the stay does not imply the establishment of a permanent residence and is not connected with a remunerated activity”. ( Pariwisata adalah keseluruhan hubungan dan gejala –gejala atau peristiwa – peristiwa yang timbul dari adanya perjalanan dan tinggalnya orang asing, dimana perjalanannya tidak untuk bertempat tinggal menetap dan tidak ada hubungan dengan kegiatan untuk mencari nafkah.)

 

Sedangkan menurut Keputusan R. I. No. 19 tahun 1969 , Kepariwisataan adalah         “ merupakan kegiatan jasa yang memanfaatkan kekayaan alam dan lingkungan hidup yang khas, seperti hasil budaya, peninggalan sejarah, pemandangan alam yang indah dan iklim yang nyaman.”

 

Dari ketiga batasan tersebut penulis dapat menarik kesimpulan , bahwa pariwisata mencakup hal – hal sebagai berikut :

 

¯   Keseluruhan fenomena alam maupun buatan manusia yang di manfaatkan untuk wisatawan.

 

¯   Kegiatan –kegiatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan selama melakukan perjalanan.

 

 

 

Ruang lingkup kegiatan pariwisata mencakup kegiatan –kegiatan sebagai berikut :

 

¯   Kegiatan yang berhubungan dengan angkutan dari tempat asal wisatawan sampai temapat tujuan selama di tempat tujuan dan kembali ke tempat asalnya.

 

¯   Kegiatan yang berhubungan dengan penyediaan , pengelolaan dan pengembangan atraksi, sarana , prasarana dan amenitas pariwisata.

 

¯   Kegiatan yang berhubungan dengan penyediaan dan pelayanan informasi tentang atraksi , sarana , prasarana dan segala sesuatu yang diperlukan wisatawan.

 

 

2.     Wisatawan ( Tourist)

 

 

Kata wisatawan berassal dari bahasa Sangsakerta, dari asal kata “ wisata” yang berarti perjalanan ditambah dengan akhiran “ wan” yang berarti orang yang melakukan perjalanan wisata.

 

Dalam bahasa Inggris, orang yang melakukan perjalanan disebut traveller. Sedangkan orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan wisata disebut Tourist.

 

Definisi mengenai tourist, diantara berbagai ahli atau Badan Internasional, masih belum ada keseragaman pengertian. Perbedaan pengertian atau batasan di sebabkan karena perbedaan latar belakang pendidikan atau keahlian, perbedaan kepentingan dan perbedaan pandangan dari para ahli atau badan tersebut. Baik mengenai batasan wisatawan  internasional maupun wisatawan domestik.

 

Dibawah ini akan dikemukakan batasan dari beberapa ahli dan badan internasional di bidang pariwisata :

 

 

A. Wisatawan Internasional

 

Norval, seorang ahli ekonomi Inggris, memberi batasa mengenai wisatawan internasional sebagai berikut : “ Every person who comes to a foreign country for a reason than to establish his permanent residence or such permanent work and who spends in the country of his temporary stay, the money he has earned else where”.

(Wisatawan adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara , dengan tujuan tidak untuk menetap atau bekerja tetap, dan membelanjakan uangnya di tempat tersebut dengan uang yang diperolehnya di tempat lain.)

 

 

Dari definisi tersebut, Norval lebih menekankan pada aspek ekonominya, sementara aspek sosiologi kurang mendapat perhatian.

 

Pada tahun 1937 , Komisi Ekonomi Liga Bangsa- Bangsa ( Economis Commission of The league of Nations), pertama kali memberikan batasan pengertian mengenai internasional tourist pada forum international . Rumusan tersebut adalah sebagai berikut :

 

The term tourist shall , in principle, be interpreted to mean any person travelling for a period of 24-hours or more in a country other than in which he usually resides”. ( Istilah Wisatawan pada dasarnya diartikan sebagai seseorang yang melakukan perjalanan selama 24 jam atau lebih di negara lain, selain dimana yang bersangkutan bertempat tinggal.)

 

Hal pokok yang penting dari batasan Liga Bangsa – Bangsa tersebut yang perlu dicatat adalah :

¯   Perjalanan dari satu negara ke negara lain

 

¯   Lama perjalanan sekurang-kurangnya 24 jam

 

Untuk selanjutnya Komisi Liga Bangsa-Bangsa ini, menyempurnakan batasan pengertian tersebut, dengan mengelompokkan orang –orang yang dapat disebut sebagai wisatawan dan bukan wisatawan.

 

Yang termasuk wisatawan adalah :

 

¯   Mereka yang mengadakan perjalanan untuk keperluan bersenang-senang, mengunjungi keluarga, dll.

 

¯   Mereka yang mengadakan perjalanan untuk keperluan pertemuan –pertemuan atau karena tugas tertentu , seperti dalam ilmu pengetahuan, tugas negara, diplomasi, agama , olah raga dll.

 

¯   Mereka yang mengadakan perjalanan untuk tujuan usaha.

 

¯   Mereka yang melakukan kunjungan mengikuti perjalanan kapal laut, walaupun tinggal kurang dari 24 jam.

 

 

 

 

 

Yang dianggap sebagai bukan wisatawan :

 

¯   Mereka yang berkunjung dengan tujuan untuk mencari pekerjaan atau melakukan kegiatan usaha.

 

¯   Mereka yang berkunjung ke suatu negara dengan tujuan utuk bertempat tinggal tetap.

 

¯   Penduduk di daerah tapal batas negara dan bekerja di negara yang berdekatan.

 

¯   Wisatawan yang hanya melewati suatu negara tanpa tinggal di negara yang dilaluinya itu.

 

Batasan tersebut tidak dapat diterima oleh Komisi Statistik dan Komisi Fasilitas Internasional Civil Aviation Organization, PBB. Komisi ini membuat rumusan baru. Istilah Tourist diganti dengan Foreign Tourist, dan memasukkan kategori Visitor di dalamnya.

 

Dalam rumusan Komisi Statistik ini dicantumkan batas maksimal kunjungan selama 6 bulan, sedangkan batas minimum 24 jam dikesampingkan. Selanjutnya batasan yang semula berdasarkan kebangsaan ( nationality) , diganti dengan berdasarkan tempat tinggal sehari –hari wisatawan. ( Country of Residence).

 

Menyadari ketidakseragaman pengertian tersebut Internasional Union of Official Travel Organization ( IUOTO), sebagai badan organisasi pariwisata internasional  yang memiliki anggota lebih kurang 90 negara telah mengambil inisiatif dan memutuskan batasan yang sifatnya seragam melalui PBB pada tahun 1963 di Roma.

 

Visitor adalah “ Any person travelling to country other than that of his usual place of residence, for any reason other than the exercise of a remunerated activity”. ( Setiap orang yang mengadakan perjalanan ke suatu negara lain, di luar tempat tinggal biasanya, dengan alasan apapun, selain melakukan kegiatan untuk mendapat upah ).

 

Batasan tersebut mencakup dua kategori pengertian Tourist dan Excursionists.

Tourist are temporary visitors staying at least 24 hours in the country visited and whose motives for travel are :

 

¯   Leisure ( pleasure, holidays, health, studies, religion and sports)

¯   Business , family, mission, meetings

 

 

 

(Wisatawan adalah pengunjung sementara, tinggal sekurag-kuragnya 24 jam di negara yang dikunjungi dan motif perjalanannya adalah :

 

¯   Kesenangan, liburan, kesehatan, belajar, keagamaan dan olah raga

¯   Usaha, kunjungan keluarga, missi, pertemuan-pertemuan

 

Excursionists are temporary visitors staying only on one day in the country visited without staying overnight (including cruise passenger).

 

(Excursionists adalah pengunjung sementara, tinggal satu hari di negara yang dikunjungi tanpa menginap, termasuk penumpang kapal pesiar).

 

 

B. Wisatawan Domestik

 

Wisatawan Domestik adalah seseorang penduduk suatu negara yang melakukan perjalanan ke tempat selain dimana ia tinggal menetap. Perjalanan tersebut dilakukan dalam ruang lingkup negara dimana yang bersangkutan tinggal, dengan lama perjalanan sekurag-kurangnya 24 jam, dengan tujuan tidak untuk mendapatkan nafkah.

 

 

 

3.      Produk Wisata

 

Produk wisata adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh wisatawan dari mulai ia meninggalkan tempat tinggalnya sampai kembali ke tempat tinggalya semula. Atau dapat diartikan pula keseluruhan pengalaman yang dialami wisatawan dari mulai keberangkatan, selama perjalanannya sampai kembali ke tempat tinggalnya.

 

4.     Atraksi Wisata

 

Istilah atraksi wisata yang digunakan oleh penulis adalah sebagai terjemahan dari Attraction dalam bahasa Inggris, yang berarti segala sesuatu yang memiliki daya tarik, baik benda yang berbentuk pisik maupun non-pisik.

 

Pengertian atraksi seing diartikan sempit yakni “pertunjukan”. Sedangkan attraction diterjemahkan dengan “obyek” wisata.

Oleh karena  segala sesuatu yang dapat menarik, dalam bahasa Inggris menggunakan istilah attraction, maka penulis memilih menggunakan atraksi wisata daripada obyek wisata. Konotasi pengertian obyek wisata lebih besar kepada benda-bedna mati dan belum tentu memiliki daya tarik.

 

5.      Sarana Wisata

 

Adalah sarana ekonomi yang diperlukan langsung oleh wisatawan, seperti : Transportasi, Akomodasi, Restoran, Atraksi Wisata, Souvenir dan lain-lain.

 

6.      Prasarana Wisata

 

Prasarana wisata adalah sarana ekonomi yang secara tidak langsung dibutuhkan oleh wisatawan . Seperti pelabuhan , jalan raya, instalasi air dan lain-lain.

 

 

The Toni Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.