Inan56’s Weblog

September 11, 2008

Mengapa Kerja di Hotel

Filed under: Kenapa Kerja di Hotel? — by inan56 @ 2:21 pm

Waktu saya lulus SMA saya pingin sekolah tentang Computer, karena tahun 70an kan Computer baru nongol di Indonesia, terus saya disekolah ke Inggris.  Waktu di Inggris tepatnya di Bournemouth kota kecil di tenggaranya London aku banyak jalan jalan liat sesuatu yg baru, maklum baru pertama kali keluar negri.

Dari jalan jalan itu kan sering kelaur masuk hotel…kok jadi suka dengan kehidupan hotel, bisa bertemu dengan berbagai macam bangsa, karakter manusia dan lain lain, setelah hampir setahun, saya pulang ke Bandung..males nerusin sekolah dan tahun 1977 aku daftar ke NHI (National Hotel Institute) sekarang jadi Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, di Jalan Setiabudhi Bandung.

Waktu mengisi formulir pendaftaran bingung karena nggak tau jurusan yg akan dipilih, akhirnya saya pilih Tata Hidangan alias Food and Beverage Service, apa ya kerjanya kalo udah lulus?  aaah gimana entar deh, yang penting masuk dulu.

Setelah mulai kuliah tambah bingung lagi karena kok sekolah belajar mengenai jenis2 piring, gelas, sendok garpu, lalu belajar jenis jenis makanan dan belajar bagaimana melayani tamu yang sedang makan…akhirnya setelah beberapa bulan baru agak terbuka pikiran ku…ooooh belajar jadi Waiter alias pelayan restoran

September 23, 2008

PENGANTAR PARIWISATA bagian 2

Filed under: PENGANTAR PARIWISATA — by inan56 @ 1:20 pm

BAB II

 

GEJALA DAN PERKEMBANGAN PARIWISATA

 

 

1.      GEJALA PARIWISATA

 

A.     Kondisi –kondisi yang menimbulkan gejala pariwisata

 

Pariwisata merupakan gejala dari pergerakan manusia secara temporer dan spontan di dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan tertentu. Gejala-gejala tersebut mendorong dan menumbuhkan kegiatan-kegiatan dalam bidang konsumsi dan produksi barang dan jasa-jasa yang diperlukan oleh wisatawan.

 

Timbulnya keinginan wisatawa tersebut, biasanya timbul karena pengaruh kondisi dan sifat-sifat lingkungan dimana wisatawan tersebut berada. Kebutuhan atau keinginan ini kadang –kadang sangat mendalam. Misalnya : keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru, keinginan untuk melepaskan diri dari kekangan-kekangan dan lain – lain.

 

Faktor-faktor fisik lingkungan biasanya mempengaruhi langsung “sikap” dari wisatawan dan menumbuhkan motivasi tertentu. Motivasi ini merupakan dasar penyebab dari timbulnya kegiatan wisatawan yang sering disebut dengan dengan “motif  yakni motif perjalanan. Motif merupakan perwujudan konkrit dari keinginan-keinginan yang harus dipenuhi. Sebagai contoh : kehidupan santai, yaitu keinginan yang disebabkan oleh akibat kelelahan badan ,keresahan jiwa dan tekanan hidup di kota.

 

Motivasi dapat dibagi kedalam dua kelompok , yaitu :

¯   Motivasi yang disebabkan oleh adanya dorongan dari dalam jiwa dan kehidupan alami

¯   Motivasi yang disebabkan oleh adanya dorongan dari luar , yang disebabkan oleh kondisi lingkungan.

 

B.     Motivasi Perjalanan

 

Motivasi dan motif dari keinginan wisatawan ( tourist interest) belum terungkap secara jelas, apakah terdapat hubungan satu sama lainnya atau tidak.

Motivasi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan , memperlihatkan perubahan yang lebih jelas terhadap sikap wisatawan dibanding dengan motivasi yang disebabkan oleh dorongan dari dalam jiwa.

Motivasi –motivasi tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

 

  1. Motivasi yang disebabkan oleh dorongan dari dalam jiwa, yang berupa kebutuhan jiwa dan fisik.

 

 Kebutuhan utama (primer)       :

¯   Dorongan hati

¯   Kebutuhan jasmani

¯   Kebutuhan akan udara bersih

¯   Kebutuhan akan sinar matahari

¯   Kebutuhan akan kebebasan bergerak

¯   Kebutuhan untuk istirahat

 

Kebutuhan sekunder                 :

 

¯   Kebutuhan untuk kesenangan

¯   Kebutuhan untuk penguatan pribadi

¯   Kebutuhan untuk maju

¯   Kebutuhan untuk menikmati sesuatu

¯   Kebutuhan akan perlindungan

¯   Keingintahuan ( curiosity)

 

  1. Motivasi yang disebabkan dari luar jiwa

 

Keadaan lingkungan alam, berupa :

 

¯   Iklim

¯   Lingkungan yang kurang baik

¯   Pencemaran dan kerusakan lingkungan

¯   Rusaknya keseimbangan alam dan pemandangannya

¯   Kondisi negatif daru tempat tinggal

¯   Menurunya kondisi kesehatan

¯   Kebisingan dan bau lingkungan

¯   Pemandangan kota yang membosankan

¯   Kondisi sosial yang membosankan

 

 

 

 

Kondisi Sosial Budaya

 

¯   Langkanya fasilitas / sarana rekreasi

¯   Kegiatan masyarakat yang membosankan

¯   Tekanan dari kelompok masyarakat yang menuju kepada tata kehidupan yang teratur

¯   Kehidupan yang teratur

¯   Terlalu banyak atau sedikit kerja fisik atau mental

¯   Terlalu banyak atau sedikit kegiatan sosial

¯   Sifat bebas dari remaja

¯   Perkembangan sosial masyarakat

¯   Perbedaan sosial di dalam masyarakat

 

Kondisi dan Keadaan Ekonomi

 

¯   Konsumsi yang tinggi dari masyarakat

¯   Biaya hidup yang tinggi di tempat

¯   Tingkat daya beli yang tinggi

¯   Meningkatnya kehidupan mewah

¯   Adanya kemudahan dalam peminjaman uang

¯   Meningkatnya waktu luang

¯   Penurunan dan rendahnya pajak

¯   Penurunan dan rendahnya ongkos angkutan

 

Kegiatan Pariwisata

 

¯   Meningkatnya kegiatan tourist publicity

¯   Meningkatnya penyebaran informasi pariwisata

¯   Prestise sosial dari pariwisata

 

Dari uraian-uraian di atas, jelas bahwa motivasi baik yang disebabkan oleh dorongan dari dalam jiwa maupun sebagai pengaruh dari lingkungan, merupakan dasar utama yang menyebabkan seseorang berkeinginan untuk melakukan perjalanan wisata. Pada saat ini, terutama di negara- negara yang telah maju, melakukan perjalanan wisata merupakan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

 

 

 

 

Ada beberapa alasan bagi orang –orang tertentu, yang tidak dapat melakukan perjalanan secara intensif, atau sama sekali tidak dapat melakukan perjalanan. Alasan – alasan yang merupakan faktor tidak atau sama sekali tidak melakukan perjalanan antara lain disebabkan :

 

Alasan biaya untuk melakukan perjalanan

 

Setiap menusia selalu dihadapkan kepada masalah keuangan, dan melakukan perjalanan selalu memerlukan tersedianya uang.

 

Alasan ketiadaan waktu

 

Halangan ketiadaan waktu, pada umumnya merupakan alasan bagi kebanyakan orang yang tidak dapat meninggalkan pekerjaannya, profesinya atau kegiatan usahanya.

 

Alasan kondisi kesehatan

 

Gangguan kesehatan atau kelemahan fisik seseorang , sering merupakan hambatan atau halangan untuk melakukan perjalanan. Sebagai contoh : orang-orang lanjut usia lebih banyak tinggal dirumah daripada melakukan perjalanan dikarenakan kondisi pisik dan kesehatan yang tidak mengizinkan.

 

Alasan keluarga

 

Keluarga yang mempunyai anak-anak yang masih kecil dan banyak., sering merupakan hambatan atau halangan bagi seseorang yang melakukan perjalanan, yang disebabkan oleh adanya beban dan kewajiban untuk memelihara anak-anaknya.

 

Alasan tidak ada minat

 

Yang menimbulkan ketiadaan minat seorang untuk melakukan perjalanan, antara lain karena kurangnya pengetahuan tentang daerah-daerah tujuan wisata yang menarik, yang disebabkan kelangkaan dan kurangnya informasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C.     Klasifikasi motif perjalanan

 

Motif –motif dari tourist interest, yang berupa perwujudan konkrit dari keinginan-keinginan, dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

 

1). Motif perjalanan untuk menikmati atraksi –atraksi wisata berupa :

a.      Atraksi alam

¯   Pemandangan

¯   Laut

¯   Pantai

¯   Pegunungan

¯   Sinar matahari

¯   Flora

¯   Fauna

b.      Atraksi sosial budaya

¯   Atraksi sejarah

¯   Atraksi kesenian

¯   Cara hidup masyarakat

¯   Yang berkaitan dengan kehidupan politik

¯   Yang berkaitan dengan antropologi

¯   Yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan

¯   Yang berkaitan dengan keagamaan

           

c.       Atraksi yang berkaitan dengan pendidikan

 

¯   Kebudayaan umum

¯   Kehidupan dan mempelajari ilmu di perguruan

¯   Mengikuti seminar

 

d.      Atraksi perdagangan , berupa :

 

¯   Berbelanja ( shopping)

¯   Mengunjungi  pameran, pekan raya

¯   Konferensi, rapat, pertemuan, seminar, dll.

 

 

 

 

 

  1. Motif kedua berupa penjelmaan dalam aspirasi-aspirasi , seperti :

 

a.      Melalui rekreasi pisik, untuk tujuan :

¯   Kesehatan

¯   Olah Raga

¯   Hidup diudara terbuka, air, laut, pegunungan

¯   Istirahat

¯   Melakukan kegiatan-kegiatan

¯   Pemuasan hati

 

b.      Melalui rekreasi spiritual :

 

¯   Merenung-renung

 

Disamping tipe-tipe diatas, tipe pariwisata lainnya dapat disebutkan : pariwisata marina, pariwisata rimba, pariwisata remaja, pariwisata berburu dan lain-lain.

 

D.    Bentuk –bentuk Pariwisata ( The form of tourism )

 

Pengelompokan pariwisata menurut bentuknya berdasarkan pada lama kunjungan dan efek ekonomi dari pariwisata yang diperinci sebagai berikut :

 

  1. Pariwisata Perorangan ( individual) dan kolektif ( organized)

 

Yang dimaksud dengan pariwisata perorangan (individual) adalah dimana seorang wisatawan atau satu group wisatawan yang dalam melakukan perjalanan dengan cara mengatur sendiri. Mereka mengatur tentang programnya, menentukan tujuan, dan mengatur kebutuhan-kebutuhan selama perjalanan.


Sedangkan yang dimaksud dengan dengan pariwisata yang diorganisir ( organized tourism) adalah para wisata dimana cara pengaturan perjalanannya , baik program maupun penentuan waktunya dilaksanakan oleh travel agent atau tour operator.

 

  1. Pariwisata jangka pendek dan jangka panjang

 

Yang dimaksud dengan pariwisata jangka pendek dimana lama perjalanannya diantara satu minggu sampai sepuluh hari.

 

 

 

 

 

2. PERKEMBANGAN PARIWISATA

 

    Pariwisata berkembang sesuai dengan perkembangan sosial budaya masyarakat. Oleh karena itu pariwisata telah ada sejak adanya motivasi yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Motivasi dan motif perjalanan dari jaman ke jaman berbeda-beda tingkatannya, sesuai dengan perkembangan dan tingkat sosial budaya , ekonomi dan lingkungan dari masyarakat itu sendiri.

 

Motivasi dan motif perjalanan masyarakat pada jaman pra sejarah berbeda dengan motivasi dan motif perjalan masyarakat pada jaman modern.

 

Cara perjalanan dan fasilitas yang digunakan masyarakat masih sederhana kebutuhannya berbeda dengan masyarakat yang lebih maju. Motivasi, motif dan cara perjalanan masyarakat pada jama Majapahit berbeda dengan masyarakat Indonesia pada saat ini.

 

World Tourism Organization , secara sepintas membagi perkembangan atau sejarah pariwisata ini ke dalam 3 ( tiga) jaman, yakni :

¯   Jaman Kuno

¯   Jaman pertengahan dan

¯   Jaman modern

 

A.     Zaman Kuno

 

Pariwisata pada zaman kuno, ditandai oleh motif perjalanan yang masih terbatas dan sederhana, yaitu:

 

¯   Adanya dorongan karena kebutuhan praktis dalam bidang politik dan perdagangan

¯   Dambaan ingin mengetahui adat istiadat dan kebiasaan orang lain atau bangsa lain

¯   Dorongan yang berhubungan dengan keagamaan, seperti melakukan ziarah dan mengunjungi tempat-tempat ibadat.

 

·        Sarana dan fasilitas yang digunakan selama perjalanan, pada zaman kuno inipun masih sederhana. Alat angkutan dengan menggunakan binatang, seperti kuda, onta, atau perahu-perahu kecil yang menyusuri pantai merupakan alat transportasi yang paling popular.

·        Akan tetapi perjalanan dengan jalan kaki untuk menempuh jarak berpuluh-puluh atau beratus-ratus kilometer paling banyak dilakukan.

 

·        Contoh perjalanan pada zaman kuno : seperti yang dilakukan oleh pedagang – pedagang Arab ke Cina untuk membeli barang berharga, pedagang Yunani ke Laut Hitam, pedagang Vinisia ke Afrika. Perjalanan kaum Buddhis Cina ke India, kaum Muslimin yang melakukan ibadah Haji ke Mekkah atau kaum Nasrani ke Yerusalem.

 

·        Badan atau organisasi yang mengatur jasa – jasa perjalanan pada jaman ini belum ada. Pengaturan perjalanan ditentukan secara individu, baik oleh perorangan atau kaum-kaum. Akomodasi yang digunakan masih sederhana. Para pelancong membangun tenda-tenda sendiri, atau tinggal di rumah-rumah saudagar, pemuka-pemuka masyarakat, pemuka agama atau tempat-tempat beribadah, seperti mesjid dan gereja. Akomodasi yang dikelola secara komersil belum ada.

 

 

B.     Zaman Pertengahan

 

·        Motivasi dan motif perjalanan pada abad pertengahan , lebih luas dari motivasi dan motif perjalanan pada jaman kuno. Disamping motif perjalanan untuk keperluan perdagangan, keagamaan dan dambaan ingin tahu, pada jaman ini telah berkembang motif untuk tujuan yang berhubungan dengan kepentingan negara (mission) dan motif untuk menambah pengetahuan.

·        Para pedagang tidak lagi melakukan pertukaran secara barter. Para pedagang cukup dengan membawa contoh barang yang ditawarkan melalui pekan-pekan raya perdagangan. Seperti di St. denis, Champagne atau Aix-la-Cappalle.

·        Untuk menjaga hubungan antar negara, baik negara penjajah maupun yang dijajah atau antar negara merdeka, dilakukan saling kunjungan petugas-petugas negara.

·        Pada jaman pertengahan telah ada perguruan-perguruan Tinggi seperti Al Azhar di Kairo, di Paris, Roma, Salamanca, dll. Para mahasiswa dari berbagai negara melakukan kunjungan ke universitas-universitas ini untuk menamban memperdalam pengetahuannya, dengan mendengarkan kuliah-kuliah yang diberikan oleh guru-guru besar.

·        Dengan semakin banyaknya yang melakukan perjalanan antar engara, berbagai negara mulai mengeluarkan peraturan-peraturan, guna melindungi kepentingan negara dan pendudukanya serta kepentingan para wisatawan.

·        Akomodasi yang bersifat komersil mulai bermunculan walaupun masih sederhana. Demikian pula restoran –restoran, yang menyediakan makanan untuk keperluan para pelancong.

·        Alat angkut tidak hanya dengan menunggan kuda, keledai atau onta, tetapi telah meningkat dengan menambah kereta yang ditarik kuda atau keledai. Angkutan laut telah menggunakan kapal-kapal yang lebih besar.

 

 

 

 

 

C.     Jaman Modern

 

·        Perkembangan pariwisata pada jaman modern, ditandai dengan semakin beraneka ragamnya motif dan keinginan wisatawab yang harus dipenuhi, sebagai akibat meningkatnya budaya manusia.

·        Formalitas atau keharusan  para pelancong untuk membawa identitas diri bila mengunjungi suatu negara mulai diterapkan.

·        Tempat –tempat penginapan (akomodasi) yang dikelola secara komersil tumbuh dengan subur. Fasilitas yang digunakan semakin lengkap.

·        Timbulnya revolusi industri di negara –negara Barat telah menciptakan alat angkut yang sangat penting dalam perkembangan pariwisata. Diketemukannya mesin uap, mulai diperkenalkan angkutan kereta api dan kapal uap, dan menggantikan alat angkut yang menggunakan binatang.

·        Perkembangan selanjutnya ditemukan alat angkut yang mengguna mesin motor, yang jauh lebih cepat dan fleksibel dalam angkutan melalui darat. Teknologi mutakhir yang sangat penting dalam jaman modern adalah dengan digunakannya angkutan udara, yang dapat menempuh jarak jauh dalam waktu yang lebih cepat.

·        Sejak permulaan abad modern, ditandai pula oleh adanya badan atau organisasi yang menyusun dan mengatur perjalanan.

 

Pada tahap selanjutnya badan atau organisasi ini memegang peranan penting sebagai pengatur / penyelenggara perjalanan, juga sebagai perantara dari wisatawan dan pemasok (industri wisata). Dan berubah menjadi suatu usaha komersil di bidang industri wisata yang sangat dominan. Yang disebut dengan Biro Perjalanan Umum (BPU).

 

 

September 17, 2008

ILMU PARIWISATA

Filed under: PENGANTAR PARIWISATA — by inan56 @ 4:19 pm

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

Gejala pariwisata telah ada semenjak adanya perjalanan manusia dari suatu tempat ke tempat lain, selain dimana ia tinggal menetap. Semenjak itu pula ada kebutuhan –kebutuhan manusia yang harus dipenuhi selama perjalanannya.

 

Dengan meningkatkan peradaban manusia, dorongan untuk melakukan perjalanan, semakin kuat, kebutuhan yang harus dipenuhi semakin komplek. Pada saat ini melakukan perjalanan wisata telah merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi.

 

Manfaat – manfaat dan peranan pariwisata, bagi suatu wilayah , negara maupun internasional sudah banyak diakui. Sehingga pariwisata telah menjadi salah satu bidang yang cukup penting di samping bidang –bidang lainnya, seperti bidang pertanian, pertambanggan, industri, politik dan sosial budaya.

 

Namun demikian , pengembangan pariwisata relatif masih baru dibanding dengan bidang –bidang lainnya yang telah disebutkan diatas. Adalah menjadi tantangan para ahli pariwisata untuk terus menggali, meneliti dan memikirkan sejauh mana pariwisata akan menjadi suatu disiplin ilmiah yang berdiri sendiri.

 

 

 

BEBERAPA PENGERTIAN POKOK

 

Untuk membicarakan pariwisata, ada beberapa pengertian pokok yang terlebih dahulu perlu diketahui. Kegunaan dari suatu batasan adalah sebagai titik tolak pembahasan.

Istilah – istilah yang diberikan untuk batasan –batasan dalam buku ini adalah :

1.      Pariwisata ( Tourism )

2.      Wisatawan ( Tourist)

3.      Produk Wisata

4.      Atraksi Wisata

5.      Sarana Wisata

6.      Prasarana Wisata

 

 

 

 

 

 

1.      Pariwisata ( tourism)

 

Arti dari istilah pariwisata belum banyak diungkapkan oleh para ahli bahasa dan pariwisata di Indonesia.

Yang jelas kata pariwisata berasal dari bahasa Sangsakerta , terdiri dari dua suku kata, yaitu “ pari” dan “ wisata” . Pari berarti banyak, berkali-kali atau berputar-putar, sedangkan wisata berarti perjalanan atau bepergian. Jadi pariwisata berarti perjalanan yang dilakukan secara berkali-kali atau berkeliling.

 

Dalam Bahasa Inggris untuk Pariwisata digunakan istilah “ Tourism”.

 

Menurut seorang Ahli Ekonomi berkebangsaan Austria Norval, Pariwisata atau Tourism adalah “ the sum total of operations, mainly of an economic nature which directly relate to the entry, stay and movement of foreigners inside and outside a certain country, city or region.” ( Pariwisata adalah keseluruhan kegiatan, yang berhubungan dengan masuk, tinggal dan pergerakkan penduduk asing di dalam atau di luar suatu negara, kota atau wilayah tertentu.)

 

Definisi pariwisata yang lebih lengkap dikemukakan oleh Prof. Hunziker dan Kraft (1942) sebagai berikut : “ Tourism is the totality of relationships and phenomena arising from the travel and stay of strangers, provided the stay does not imply the establishment of a permanent residence and is not connected with a remunerated activity”. ( Pariwisata adalah keseluruhan hubungan dan gejala –gejala atau peristiwa – peristiwa yang timbul dari adanya perjalanan dan tinggalnya orang asing, dimana perjalanannya tidak untuk bertempat tinggal menetap dan tidak ada hubungan dengan kegiatan untuk mencari nafkah.)

 

Sedangkan menurut Keputusan R. I. No. 19 tahun 1969 , Kepariwisataan adalah         “ merupakan kegiatan jasa yang memanfaatkan kekayaan alam dan lingkungan hidup yang khas, seperti hasil budaya, peninggalan sejarah, pemandangan alam yang indah dan iklim yang nyaman.”

 

Dari ketiga batasan tersebut penulis dapat menarik kesimpulan , bahwa pariwisata mencakup hal – hal sebagai berikut :

 

¯   Keseluruhan fenomena alam maupun buatan manusia yang di manfaatkan untuk wisatawan.

 

¯   Kegiatan –kegiatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan selama melakukan perjalanan.

 

 

 

Ruang lingkup kegiatan pariwisata mencakup kegiatan –kegiatan sebagai berikut :

 

¯   Kegiatan yang berhubungan dengan angkutan dari tempat asal wisatawan sampai temapat tujuan selama di tempat tujuan dan kembali ke tempat asalnya.

 

¯   Kegiatan yang berhubungan dengan penyediaan , pengelolaan dan pengembangan atraksi, sarana , prasarana dan amenitas pariwisata.

 

¯   Kegiatan yang berhubungan dengan penyediaan dan pelayanan informasi tentang atraksi , sarana , prasarana dan segala sesuatu yang diperlukan wisatawan.

 

 

2.     Wisatawan ( Tourist)

 

 

Kata wisatawan berassal dari bahasa Sangsakerta, dari asal kata “ wisata” yang berarti perjalanan ditambah dengan akhiran “ wan” yang berarti orang yang melakukan perjalanan wisata.

 

Dalam bahasa Inggris, orang yang melakukan perjalanan disebut traveller. Sedangkan orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan wisata disebut Tourist.

 

Definisi mengenai tourist, diantara berbagai ahli atau Badan Internasional, masih belum ada keseragaman pengertian. Perbedaan pengertian atau batasan di sebabkan karena perbedaan latar belakang pendidikan atau keahlian, perbedaan kepentingan dan perbedaan pandangan dari para ahli atau badan tersebut. Baik mengenai batasan wisatawan  internasional maupun wisatawan domestik.

 

Dibawah ini akan dikemukakan batasan dari beberapa ahli dan badan internasional di bidang pariwisata :

 

 

A. Wisatawan Internasional

 

Norval, seorang ahli ekonomi Inggris, memberi batasa mengenai wisatawan internasional sebagai berikut : “ Every person who comes to a foreign country for a reason than to establish his permanent residence or such permanent work and who spends in the country of his temporary stay, the money he has earned else where”.

(Wisatawan adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara , dengan tujuan tidak untuk menetap atau bekerja tetap, dan membelanjakan uangnya di tempat tersebut dengan uang yang diperolehnya di tempat lain.)

 

 

Dari definisi tersebut, Norval lebih menekankan pada aspek ekonominya, sementara aspek sosiologi kurang mendapat perhatian.

 

Pada tahun 1937 , Komisi Ekonomi Liga Bangsa- Bangsa ( Economis Commission of The league of Nations), pertama kali memberikan batasan pengertian mengenai internasional tourist pada forum international . Rumusan tersebut adalah sebagai berikut :

 

The term tourist shall , in principle, be interpreted to mean any person travelling for a period of 24-hours or more in a country other than in which he usually resides”. ( Istilah Wisatawan pada dasarnya diartikan sebagai seseorang yang melakukan perjalanan selama 24 jam atau lebih di negara lain, selain dimana yang bersangkutan bertempat tinggal.)

 

Hal pokok yang penting dari batasan Liga Bangsa – Bangsa tersebut yang perlu dicatat adalah :

¯   Perjalanan dari satu negara ke negara lain

 

¯   Lama perjalanan sekurang-kurangnya 24 jam

 

Untuk selanjutnya Komisi Liga Bangsa-Bangsa ini, menyempurnakan batasan pengertian tersebut, dengan mengelompokkan orang –orang yang dapat disebut sebagai wisatawan dan bukan wisatawan.

 

Yang termasuk wisatawan adalah :

 

¯   Mereka yang mengadakan perjalanan untuk keperluan bersenang-senang, mengunjungi keluarga, dll.

 

¯   Mereka yang mengadakan perjalanan untuk keperluan pertemuan –pertemuan atau karena tugas tertentu , seperti dalam ilmu pengetahuan, tugas negara, diplomasi, agama , olah raga dll.

 

¯   Mereka yang mengadakan perjalanan untuk tujuan usaha.

 

¯   Mereka yang melakukan kunjungan mengikuti perjalanan kapal laut, walaupun tinggal kurang dari 24 jam.

 

 

 

 

 

Yang dianggap sebagai bukan wisatawan :

 

¯   Mereka yang berkunjung dengan tujuan untuk mencari pekerjaan atau melakukan kegiatan usaha.

 

¯   Mereka yang berkunjung ke suatu negara dengan tujuan utuk bertempat tinggal tetap.

 

¯   Penduduk di daerah tapal batas negara dan bekerja di negara yang berdekatan.

 

¯   Wisatawan yang hanya melewati suatu negara tanpa tinggal di negara yang dilaluinya itu.

 

Batasan tersebut tidak dapat diterima oleh Komisi Statistik dan Komisi Fasilitas Internasional Civil Aviation Organization, PBB. Komisi ini membuat rumusan baru. Istilah Tourist diganti dengan Foreign Tourist, dan memasukkan kategori Visitor di dalamnya.

 

Dalam rumusan Komisi Statistik ini dicantumkan batas maksimal kunjungan selama 6 bulan, sedangkan batas minimum 24 jam dikesampingkan. Selanjutnya batasan yang semula berdasarkan kebangsaan ( nationality) , diganti dengan berdasarkan tempat tinggal sehari –hari wisatawan. ( Country of Residence).

 

Menyadari ketidakseragaman pengertian tersebut Internasional Union of Official Travel Organization ( IUOTO), sebagai badan organisasi pariwisata internasional  yang memiliki anggota lebih kurang 90 negara telah mengambil inisiatif dan memutuskan batasan yang sifatnya seragam melalui PBB pada tahun 1963 di Roma.

 

Visitor adalah “ Any person travelling to country other than that of his usual place of residence, for any reason other than the exercise of a remunerated activity”. ( Setiap orang yang mengadakan perjalanan ke suatu negara lain, di luar tempat tinggal biasanya, dengan alasan apapun, selain melakukan kegiatan untuk mendapat upah ).

 

Batasan tersebut mencakup dua kategori pengertian Tourist dan Excursionists.

Tourist are temporary visitors staying at least 24 hours in the country visited and whose motives for travel are :

 

¯   Leisure ( pleasure, holidays, health, studies, religion and sports)

¯   Business , family, mission, meetings

 

 

 

(Wisatawan adalah pengunjung sementara, tinggal sekurag-kuragnya 24 jam di negara yang dikunjungi dan motif perjalanannya adalah :

 

¯   Kesenangan, liburan, kesehatan, belajar, keagamaan dan olah raga

¯   Usaha, kunjungan keluarga, missi, pertemuan-pertemuan

 

Excursionists are temporary visitors staying only on one day in the country visited without staying overnight (including cruise passenger).

 

(Excursionists adalah pengunjung sementara, tinggal satu hari di negara yang dikunjungi tanpa menginap, termasuk penumpang kapal pesiar).

 

 

B. Wisatawan Domestik

 

Wisatawan Domestik adalah seseorang penduduk suatu negara yang melakukan perjalanan ke tempat selain dimana ia tinggal menetap. Perjalanan tersebut dilakukan dalam ruang lingkup negara dimana yang bersangkutan tinggal, dengan lama perjalanan sekurag-kurangnya 24 jam, dengan tujuan tidak untuk mendapatkan nafkah.

 

 

 

3.      Produk Wisata

 

Produk wisata adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh wisatawan dari mulai ia meninggalkan tempat tinggalnya sampai kembali ke tempat tinggalya semula. Atau dapat diartikan pula keseluruhan pengalaman yang dialami wisatawan dari mulai keberangkatan, selama perjalanannya sampai kembali ke tempat tinggalnya.

 

4.     Atraksi Wisata

 

Istilah atraksi wisata yang digunakan oleh penulis adalah sebagai terjemahan dari Attraction dalam bahasa Inggris, yang berarti segala sesuatu yang memiliki daya tarik, baik benda yang berbentuk pisik maupun non-pisik.

 

Pengertian atraksi seing diartikan sempit yakni “pertunjukan”. Sedangkan attraction diterjemahkan dengan “obyek” wisata.

Oleh karena  segala sesuatu yang dapat menarik, dalam bahasa Inggris menggunakan istilah attraction, maka penulis memilih menggunakan atraksi wisata daripada obyek wisata. Konotasi pengertian obyek wisata lebih besar kepada benda-bedna mati dan belum tentu memiliki daya tarik.

 

5.      Sarana Wisata

 

Adalah sarana ekonomi yang diperlukan langsung oleh wisatawan, seperti : Transportasi, Akomodasi, Restoran, Atraksi Wisata, Souvenir dan lain-lain.

 

6.      Prasarana Wisata

 

Prasarana wisata adalah sarana ekonomi yang secara tidak langsung dibutuhkan oleh wisatawan . Seperti pelabuhan , jalan raya, instalasi air dan lain-lain.

 

 

September 16, 2008

Pemimpin Yang Melayani

Filed under: Uncategorized — by inan56 @ 10:20 am

PEMIMPIN YANG “MELAYANI”

 

Semakin banyak saya membaca literature atau konsep mengenai kepemimpinan, semakin saya merasa tidak mungkin menjadi seorang pemimpin yang baik. Bayangkan, menurut berbagai ahli kepemimpinan, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang kharismatik, inspirational, transformational, innovative, motivational, memiliki kesadaran global, dan masih banyak lagi istilah-istilah canggih yang semakin menunjukkan betapa predikat “pemimpin” menjdai sangat eksklusif. Jika untuk menjadi pemimpin harus memiliki kualifikasi secanggih itu, lalu berapa bnanyak orang yang mampu menjadi pemimpin di masa mendatang?

 

Saya teringat pengalaman pada saat menyelesaikan program pascasarjana. Saat itu, saya melakukan penelitian guna mencari jawaban atas pertanyaan apakah saya dapat memprediksi gaya kepemimpinan seseorang berdasarkan personal value-nya? Suatu pertanyaan yang sederhana, namun memiliki jawaban yang membuat saya sering sakit kepala karena saya harus membaca dan memahami berbagai gaya kepemimpinan dari berbagai literature yang semuanya berakhir pada satu kesimpulan: konsep kepemimpinan pada umumnya rumit, sulit dipahami maupun diterapkan. Saya rasa bukan hanya saya seorang yang merasa demikian. Buktinya? Salah seorang rekan disebuah perusahaan besar sedang mencari lulusan terbaik dari universitas-universitas di Indonesia untuk dididik menjadi manajer atau pemimpin masa depan. Ketika saya Tanya, “Kriteria manajer masa depan itu seperti apa?”, ternyata ia sendiri juga bingung. Ia mencoba mengungkapkan istilah-istilah canggih seperti disebutkan sebelumnya, tanpa mampu memberikan contoh tingkah laku konkret dari manajer masa depan khayalannya.

Saya jadi bertanya-tanya, adakah konsep kepemimpinan yang sederhana, tidak sulit untuk diterapkan, namun memiliki dampak yang langsung terlihat terhadap kinerja anak buah maupun tim kerja? Menurut saya, seorang pemimpin atau manajer yang baik adalah pemimpin yang bersedia “melayani”, artinya bersedia bekerja bagi tim dan sekaligus memimpin tim tersebut. Tentu saja kita tetap harus mempertimbangkan aspek keseimbangan dalam pelayanan. Artinya, pelayanan dari manajer tidak boleh berlebihan sehingga tugas manajer tampak lebih mirip dengan tugas office boy. Bagaimanapun, peran manajer sebagai pemimpin tim tetap harus menonjol.

 

Lalu, agar seorang manajer dapat menjadi pemimpin yang “melayani”, karakter seperti apa yang perlu ia miliki? Hal yang paling utama, tentunya manajer tersebut harus menyukai manusia sehingga ia mampu memahami hubungan antar-manusia dengan lebih baik. Dengan demikian, ia akan melihat konsep ini sebagai manifestasi dari rasa cintanya terhadap hubungan antar-manusia, bukan lagi sebagai tuntutan peran semata. Dengan bahasa sederhana, ia mampu melayani anak buah karena ia memang mau dan senang melakukannya.

Bentuk pelayanan yang dapat diberikan oleh seorang manajer kepada anak buahnya dapat bervariasi, dari mulai aktivitas sehari-hari hingga keputusan manajemen yang lebih kompleks. Misalnya, ia akan berusaha meluangkan waktu saat anak buahnya sedang membutuhkan saran dan masukan. Atau, setiap kali seorang manajer memberikan tugas kepada anak buahnya, ia tidak lupa menanyakan kegiatan anak buah saat akhir pekan karena ia tidak hanya tertarik dengan masalah pekerjaan tetapi juga kehidupan social anak buah (yang sering diartikan oleh sebagian orang sebagai basa-basi yang tidak perlu). Contoh lain, misalnya ketika anak buah tidak berhasil menyelesaikan tugas sesuai harapan Anda sebagai manajer, maka Anda berusaha membesarkan hatinya dan menunjukkan cara yang lebih efektif untuk menyelesaikan tugas serupa di masa mendatang.

Selain itu, ada pula bentuk pelayanan dari seorang manajer terhadap anak buahnya dalam bentuk yang lebih luas dan menyangkut kebijaksanaan perusahaan secara keseluruhan. Misalnya, yang diusulkan oleh Tony Barnes berdasarkan teori Kaizen mengenai kepemimpinan (1998: hal 85). Ia menyatkan bahwa pada dasarnya seorang manajer dapat memberikan bantuan dalam 5 bentuk sebagai berikut:

Kalau seorang karyawan tidak tahu apa yang harus dikerjakan….beri ia penjelasan.

Kalau seorang karyawan tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya….beri ia pelatihan.

Kalau seorang karyawan tidak inging mengerjakannya…..beri ia motivasi.

Kalau seorang karyawan tahu apa yang harus dikerjakan, berkompetensi dan memiliki motivasi untuk mengerjakannya…..beri ia kesempatan.

Kalau seorang karyawan sudah mengerjakannya dan memnuhi standar (bahkan melebihi)…beri ia penghargaan.

 

Sudahkan Anda menjadi pemimpin yang mampu “melayani” anak buah?

 

 

PROFIL KARYAWAN HOTEL

Filed under: KERJA DI HOTEL? — by inan56 @ 9:16 am

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.   PENDAHULUAN

 

Keberhasilan suatu usaha sangat tergantung kepada hasil penjualan. Demikian juga dengan usaha perhotelan yang merupakan salah satu mata rantai dalam industri pariwisata. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa penjualan hanya akan berhasil bila kita mengetahui dengan baik apa yang dibutuhkan oleh pembeli. Dengan mendapatkan informasi yang lengkap mengenai kebutuhan pembeli maka kita akan dapat menen tukan kebijaksanaan usaha yang sesuai dengan kebutuhan pasar yang berarti bahwa kita mengetahui apa leinginan, kebutuhan, perilaku dan kecenderungan membeli dari pada pasar yang ada.

 

Berbicara mengenai pembeli atau pasar maka pengertiannya dapat dikatakan sebagai berikut :

a.   Pembeli adalah orang penting yang sangat menentukan dalam suatu usaha

b.  Pembeli tidak terikat pada kita tetapi justru sebaliknya.

c.   Pembeli jangan dianggap sebagai hambatan tetapi merupakan tujuan.

d.  Pembeli yang datang  keperusahaan kita sudah dapat dianggap memberikan bantuan apapun.

e.   Pembeli adalah merupakan bagian penting yeng tidak terlepas dari usaha kita jadi bukan orang luar.

f.    Pembeli bukan hanya berarti uang melainkan manusia yang mempunyai perasaan yang harus dilayani dengan sebaik – baiknya.

g.  Pembeli adalah sumber kehidupan usaha kita dimana tanpa mereka usaha tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

 

Sesuai dengan batasan yang ada hotel adalah usaha yang menyediakan jasa dalam bentuk akomodasi, makanan dan minuman, serta produk lain yang pada dasarnya dapat dikelompokan kedalam produk yang “tangible” dan “itangible”.

Yang dimaksud dengan produk yang  “itangible” adalah produk yang dapat dilihat oleh tamu dan mereka harus membayar untuk mendapatkannya, seperti misalnya: kamar, makanan dan minuman, laundry, ruang rapat, fasilitas sport dan rekreasi, hiburan, toko dan perkantoran, peralatan yang disewwakan, staff ahli (sekretaris), telepon, dan telex serta fasilitas – fasilitas lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang – undangan.

 

Sedang yang dimaksud dengan produk yang “intangible” adalah produk yang tidak dapat dilihat oleh tamu tapi dapat dirasakan, dan untuk mendapatkannya meraka tidak usah membayar, seperti misalnya : pelayanan dari karyawan hotel, keamanan dan sebagainya.

 

Setiap tamu yang datang kehotel mempunyai motivasi yang berbedasatu sama lain, sesuai dengan motivasi mereka dalam bepergian yang dapat dibedakan sebagai berikut :

 

a.   Motivasi Umum  : Berbeda jauh darirumah

b.  Motivasi Khusus : Harga elastis           : – bisnis

                                                                  – rapat

                                                                  – konferensi

                                 Harga Inelastis       : – liburan

                                                                  – kunjungan keluarga

                                                                  – lain – lain ( pendidikan, olah raga,

        kesehatan, agama, belanja,

        gengsi,  penyesuaian).

 

2.   PERSYARATAN KARYAWAN HOTEL

 

 

Hotel merupakan suatu unit usaha dimana didalamnya terdiri dari beberapa bagian yang disebut department. Setiap department memiliki karyawan yang harus mnemenuhi persyaratan yang sudah ditentukan oleh perusahaan dan ini berbeda sesuai dengan fungsi masing – masing department tersebut.

Namun demikian, neraca umum setiap karyawan hotel harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

 

a.   Bersedia untuk mealayani orang lain

b.  Memiliki pengetahuan, keterampilan dan perilaku sesuai dengan bidang pekerjaanya.

c.   Memiliki rasa dan tanggung jawab terhadap perusahaan

d.  Memiliki kesadaran bahwa karir pekerjaannya sangat tergantung kepada keberadaan tamu di hotel

 

Persyaratan tersebut diatas perlu dipenuhi bukan saja demi keberhasilan uasaha yang dijalankan melainkan juga demi pengembangan karir karyawan itu sendiri. Secara lebih luas persyaratan karyawan dapat diterangkan sebagai berikut :

 

a.   Kebersihan Diri

     Hal ini merupakan suatu yang sangat penting bagi karyawan hotel terutamasekali bagi mereka yang berhubungan langsung dengan tamu serta makanan dan minuman.

 

b.  Pengetahuan Mengenai Bidang Pekerjaannya.

    Hal ini diperlukan demi kelancaran pelaksanaan tugas karyawan dan lebih utama bagi demi baiknya pelayanan terhadap tamu sehingga tamu merasa puas.

 

 

 

 

c.   Tepat Waktu

     Karyawan yang sering datang terlambat ketempat kerja menunjukan bahwa      dia sudah tidak lagi memperhatikan pekerjaannya disamping kurangnya rasa “respect” terhadap pimpinan.

 

d.  Kepribadian

Karyawan hotel harus dapat bersikap taktis, ramah, memiliki rasa humor yang baik serta tidak tempramental. Dia harus mampu berhubungan dengan tamu dalam suasanan yang menyenangkan dengan sikap berbicara yang baik disertai senyum pada waktu yang tepat. Dengan kepribadian yang demikian, maka karyawan sudah membantu pimpinan dan perusahaannya karena dia merupakan “salesman” yang baik.

 

e.   Sikap Terhadap Tamu

Pendekatan yang tepat terhadap tamu jangan diartikan sebagai terlalu merendahkan diri sehingga karyawan bersikap sebagai budak. Karyawan hotel harus dapat mengantisipasi apa yang diinginkan dan diharapkan oleh tamu. Perhatian yang seksama harus selalu diberikan kepada tamu selama mereka tinggal dihotel tanpa karyawan merasa bosan sebab ada kalanya tamu yang dihadapi adalah orang yang sulit untuk dipuaskan.

 

f.    Daya Ingat

     Dengan memiliki daya ingat yang baik maka hal ini akan dapat lebih meningkatkan lagi pelayanan terhadap tamu hotel.

 

g.  Kejujuran

Karyawan harus jujur tidak hanya terhadap tamu tetapi juga terhadap pimpinan. apabila terdapat rasa saling mempercayai antara karyawan, tamu dan pimpinan maka hal ini akan dapat menciptakan suasanan kerja yang menyenangkan yang pada gilirannya akan dapat menimbulkan efesiensi dan semangat kerjasama yang baik antara para karyawan.

 

h.  Pengetahuan Umum

Agar supaya karyawan mampu mengimbangi pembicaraan dengan tamu maka diperlukan pengetahuan umum yang memadai terutama sekali pengetahuan lokal mengenai tempat/ daerah dimana dia bekerja.

 

Selain persyaratan tersebut diatas, beberapa persyaratan “khusus” yang harus dipenuhi oleh karyawan hotel adalah sebagai berikut :

 

a.   Tinggi badan

b.  Tidak cacat rohani/ jasmani

c.   Berbadan sehat

d.  Bebas alkohol, narkotika dan obat – obatan

e.   berpenampilan menarik

f.    Tidak memelihara kumis, janggut serta cambang

 

3.   KEBERSIHAN DIRI DAN LINGKUNGAN

 

Kuman atau bakteri umumnya juga terdapat pada tubuh kita dan dapat dipindahkan ketempat/ benda lain dengan melalui sentuhan. Oleh sebab itu kebersihan badan adalah sangat penting untuk dapat mencegah menyebarnya kuman atau bakteri, terutama pada waktu kita memegang makanan.

 

3.1. Kebersihan Diri (Personal Cleanliness)

Perhatian terhadap diri sendiri adalah sangat diperlukan serta mempunyai arti  yang sangat penting bagi setiap orang yang bekerja pada setiap bagian dihotel yang berhubungan langsung dengan pelayanan tamu (terutama pada bagian makanan). Hal ini disebabkan karena kebanggaan seseorang akan bercermin dari kebersihan diri yang tinggi dan juga kesehatan phisiknya.

 

a.   Mandi (Bathing)

Mandi secara kontinu dan teratur adalah sangat diperlukan, oleh karena itu bila seseorang tidak berusaha untuk membersihkan badannya dengan mandi secara kontinu dan teratur, maka kuman atau bakteri dapat mudah berkembang biak serta mudah berpindah ketempat lain seperti makanan.

 

b.  Tangan (Hands)

Pada waktu kita sedang ataupun selesai melaksanakan suatu pekerjaan membersihkan kamar, usahakanlah tangan kita harus tetap dalam keadaan bersih. Bersih dalam arti bebas dari segala jenis kuman dan bakteri. Oleh sebab itu cucilah selalu tangan anda baik sebelum ataupun sesudah bekerja.

 

c.   Rambut (Hair)

Rambut harus dipelihara dengan baik dengan mencucinya secara teratur dan harus selalu tersisir dengan rapi. Rambut yang tidak terpelihara dengan baik seperti tidak/ jarang dicuci, terlalu panjang serta tidak tersisir rapi akan cepat mendatangkan ketombe dan ketombe tersebut akhirnya akan beterbangan kemana – mana pada waktu kita bekerja, dan ini berarti dapat menyebarkan kuman atau bakteri.

 

d.  Mulut dan Gigi (Mouth and Tooth)

Ada bnyak terdapat kuman – kuman da bakteri disekitar mulut dan gigi, oleh sebab itu mulut dan gigi harus selalu dijaga dalam keadaan bersih. Dan apalagi terdapat gigi yang rusak cepatlah datang kedokter gigi untuk diobati atau disembuhkan.

e.   Merokok (Smoking).

Janganlah merokok pada waktu saudara bekerja/ memberihkan kamar atau ruangan. Asap yangmengepul didalam ruangan disamping menggangu kesehatan juga kuman dan bakteri yang berasal dari mulut akan cepat menyebar melalui perantaraan rokok atau jari – jari tangan keruangan/ kamar.

 

 

3.2. Kebersihan Lingkungan (Housekeeping Environmental Sanitation

Bila kita mengabaikan perawatan kebersihan pada setiap bagian ruangan, hal ini akan menimbulkan kesan yang jelek terhadap lingkungannya. Pada dasarnya kebersihan lingkungan adalah sangat penting baik untuk tamu ataupun kita yang bekerja.

 

a.   Kebersihan Area Pekerjaan (Cleanliness of work areas)

Sudah menjadi suatu kewajiban bahwa para karyawan harus selalu menjaga agar area/ tempat bekerjanya selalu dalam keadaan bersih, kotoran – kotoran seperti sisa – sisa makanan/ minuman yang terdapat dilantai harus segera dibersihkan. Hal ini karena disamping untuk menghindarkan pendangan yang kurang sedap juga dapat menyebabkan para pekerja terpeleset.

 

b.  Kebersihan dan Sanitasi Locker dan Kamar Mandi Karyawan (Cleanliness

     and Sanitation of Employee Locker and Rest Room)

Standard kebersihan para karyawan baik dalam berpakaian maupun dalam menggunakan fasilitas locker dan kamar mandi harus selalu diperhatikan. Standard kebersihan yang digunakan untuk kamar – kamar tamu juga harus digunakan untuk locker dam kamar mandi para karyawan.

Pengecekan terhadap standard kebersihan locker dan kamar mandi para karyawanharus dilakukan secara rutin setiap hari/ saat. Membersihkan lantai ataupun jamban secara reguler setiap hari adalah merupakan bagian dari perawatan kebersihan dan sanitasi.

Locker biasanya juga dipergunakan sebagai tempat beristirahat para karyawan dan pada umumnya dilocker inilah karyawan diperbolehkan merokok, oleh sebab itu asbak dan tempat sampah harus tersedia dalam jumlah yang cukup.

 

c.   Ruangan Makan Karyawan (Employee Eating Areas )

Standard kebersihan dan kesehatan tinggi harus digunakan diruangan tersebut, oleh sebab itu partisipasi dari seluruh karyawan sangan diperlukan.

 

 

d.  Ventilasi

Untuk mendapatkan sirkulasi udara yang baik, maka diperlukan lubang udara/ jendela yang cukup, kipas angin atau ventilator. Dan agar supaya mendapatkan sirkulasi udara yang bersih dan segar, maka lubang udara/ jendela, kipas angin ataupun ventilator yang ada harus selalu dalam keadaan bersih bebas debu.

 

Apabila alat – alat tersebut sangat kotor oleh debu, maka debu yang banyak mengandung kuman atau bakteri akan tersebar keseluruh ruangan tersebut menjadi tak sehat. Bila digunakan lobang angin/ jendela sebagai ventilator, maka lebih baik lobang angin/ jendela tersebut dipasang tambahan kawat – kawat untuk mencegah masuknya serangga dan debu yang berlebihan.

 

e.   Peneangan

Penerangan yang baik adalah sangat penting artinya bagi karyawan yang bekerja. Oleh sebab itu bagi setiap petugas hotel yang sedang bekerja usahakan ruangan atau kamar tersebut dalam keadaan terang (penerangan yang cukup). Dengan demikian setiap bagian yang kotor dapat terlihat dengan mudah.

 

f.    Toilet dan Sink (Toilet and Sink)

Walaupun jamban (toilet) dan sink (tempat mencuci alat – alat pembersih) disediakan untuk para karyawan, oleh karena sering sekali dipergunakan akan cepat menjadi kotor. Oleh sebab itu pengecekan kebersihan dan pelaksanaan pembersihannya harus sering dilakukan.

 

g.  Lantai (Floor)

Suatu ruangan yang sibuk sepertoi lobby akan sering/ cepat menjadi kotor, oleh sebab itu ruangan tersebut harus menggunakan jenis lantai yang kuat dan mudah dibersihkan.

 

h.  Dinding (Walls)

Dinding yang dipergunakan pada ruangan yang sibuk harus kuat dan mudah/ dapat dicuci serta lebih baik menggunakan warna yang terang (light color). Pengcekan kebersihan harus sering dilakukan. Cucilah dinding apabila sudah kotor.

 

i.    Langit – Langit Rumah (Ceilings)

Lagit – langit rumah (Ceilings) harus dicegah dari keretakan – keretakan dan lebih baik langit – langit rumah yang rata sehingga tidak mudah menyimpan debu.

 

j.     Pintu dan Jendela (Doors and Windows)

Pintu dan jendela harus selalu dalam keadaan bersih tidak berdebu dan leabih baik bila mudah/ dapat dicuci. Demikian pula bagian kaca jendela juga harus bersih agar sinar/ cahaya dari luar dapat masuk/ menembus sehingga kan memberikan penerangan yang baik.

 

 

Restaurateur Tips

Filed under: CELOTEH DI HOTEL — by inan56 @ 9:06 am

THE BASIC

 

WHY GUEST GET UPSET AND DON’T COME BACK

 

 

1.                 Anything that makes the guest feels wrong, stupid or clumsy.

2.                 Salads that aren’t chilled

3.                 Water glasses and coffee cups not automatically refilled.

4.                 Hot food on cold plates or hot beverages in cold cups.

5.                 Hot food that’s not hot or cold food at room temperature.

6.                 Being put on “hold” for more than 30 seconds.

7.                 Chipped dishes or glasses.

8.                 Spotted or tarnished silverware.

9.                 Streaked glasses. (Hold them up to the light to check).

10.             Menus or place mate that are ripped stained or smudged.

11.             Bread or rolls stale around the edges.

12.             Not enough menus for all guests.

13.             Boring salad bars or buffets (no “frazzle dazzle”),

14.             Waiting for three minutes without having a drink order taken.

15.             Food waiting visibly in the pickup window without being pick up.

16.             Running out of chine, silver or glassware.

17.             Silverware is crooked on the tables.

18.             Tabletop that is not picture-perfect.

19.             Sugar bowls that are dirty inside (remove packets and checks).

20.             Salt and pepper shakers that are greasy to the touch or half empty

21.             Ketchup bottles that are coated at the neck.

22.             Running out of any item in the bar or restaurant – any time

23.             Service staff with an “I’m doing you a favor” attitude.

24.             Banquets, receptions or coffee breaks that start late.

25.             “Flat” soft drink.

26.             Debris, butts or paper and not immediately pick-up.

27.             Opening late or closing early contrary to posted hours.

28.             Ordering the description of a dish and serving something else.

29.             Not being acknowledged with eye contact, a smile and a hello immediately upon entering the restaurant.

30.             Chairs or booths that are dirty stained or have crumbs.

31.             Not getting free coffee at breakfast in the wait or coffee not more that 3 minutes.

32.             Dried out fruit garnish at the bar

33.             Buffet tables or salad bars not supervised or promptly replenished

34.             Not getting breakfast coffee immediately upon seating

35.             Orders that arrive incomplete.

36.             Service staff asking, “who gets what?”

37.             Stained coffee cups (checks inside)

38.             Murky water in the bud vase or wilted flowers on the table.

39.             Coffee that’s not steaming hot, especially at banquets

40.             Tiles linen with small holes rips or burns

41.             Wobbly tables and chairs

42.             Greasy, dirty rags used to wipe

43.             Service staff that talks to there order pads.

44.             Frozen desserts served too hard to get a spoon.

45.             Not being sincerely thanked before leaving the restaurant

46.             Managers and staff who aren’t listening when spoken to,

47.             Being on a light schedule and not being able to get through breakfast in 25 minutes.

48.             Food checks that are sloppy, wet, stained or calculated wrong.

49.             Service staff who avoid eye contact and a smile

50.             Drinking with nothing to nibble on.

51.             Butter so hard it rips the bread

52.             Dirty or disorderly kitchens (yes, the guests can see into the kitchen).

53.             The feeling or being “processed” rather than being served.

54.             Failure to promptly resolve a complaint (in favor of the guest).

55.             Seating smokers beside non-smokers.

56.             Lighting that’s too dim to read the menu easily.

57.             Long dissertations of the restaurant’s specials (keep it short).

58.             “Background” music that intrudes on conversation.

59.             Restrooms that are not spotless clean smelling and well stocked.

60.              

61.             Staff eating or drinking at workstations, especially in view of the guest.

62.             Poor personal hygiene and sanitation practices (like sneezing, then handling food without washing hands).]

63.             Soiled or all fitting uniforms.

64.             Sitting at the table for more than one minute without being acknowledged.

65.             Staff who can’t answer basic questions about the menu items.

66.             Service not provided to guests in the order of the their arrival or seating

67.             Grossly inaccurate estimates of waiting time or lost reservations

68.             Wiping seats and tabletops with the same cloth.

69.             Wet or sticky tabletops.

 

September 11, 2008

STPB

Filed under: Sekolah di Dalam Negeri,SEKOLAH PERHOTELAN — by inan56 @ 4:00 pm
Tentang STPB PDF Print E-mail

STPB (Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung) dahulu dikenal dengan nama NHI (baca : eNHaii) adalah Perguruan Tinggi Kedinasan yang bernaung dibawah Depatemen Kebudayaan & Pariwisata sedang secara teknis akademis dibina oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Sebagai sebuah lembaga tinggi milik Pemerintah, Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung bertujuan untuk menyiapkan tenaga-tenaga profesional dibidang pariwisata sebagai aset nasional yang berkualitas internasional, kreatif, berjiwa wirausaha berkepribadian Indonesia dan berbudi luhur.
STP Bandung bekerjasama dengan berbagai perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun luar di negeri di dalam mengembangkan program-program pendidikannya pada tingkat D-III dan D-IV dan Magister Manajemen Pariwisata.
Program  pendidikan yang diselenggarakan di STP Bandung adalah program yang menekankan pada pencapaian keterampilan dari sebuah ilmu. Pencapaian keterampilan tersebut diperkaya dengan Praktik Laboratorium, Studi Lapangan dan Praktek Kerja Nyata.
  
VISI 
Menjadikan Institusi Pendidikan Tinggi Pariwisata Terbaik dan Berdaya Saing Internasional pada tahun 2010.
  
MISI
  • Membangun SDM yang professional dan berkualitas Internasional dibidang Kepariwisataan
  • Membangun organisasi pendidikan yang efektif, efisien dan akuntabel
  • Membangun jejaring kerja dengan stakeholders di dalam dan di luar negeri 
  • Mengembangkan penelitian dan pengabdian dibidang kepariwisataan untuk masyarakat dan industri

 silahkan kunjungi : http://stp-bandung.ac.id

BEDANYA GM HOTEL AMA OWNER HOTEL

Filed under: CELOTEH DI HOTEL — by inan56 @ 10:26 am

Bila owner tetap pada pendapatnya,
itu berarti beliau konsisten.
Bila GM tetap pada pendapatnya,
itu berarti dia keras kepala !


Bila owner berubah-ubah pendapat,
itu berarti beliau flexible.
Bila GM berubah-ubah pendapat,
itu berarti dia plinplan !

Bila owner bekerja lambat,
itu berarti beliau teliti.
Bila GM bekerja lambat
itu berarti dia tidak ‘perform’ !

Bila owner bekerja cepat,
itu berarti beliau ‘smart’.
Bila GM bekerja cepat,
itu berarti dia terburu-buru !

Bila Owner lambat memutuskan,
itu berarti beliau hati-hati.
Bila GM lambat memutuskan,
itu berarti dia telmi‘ !

Bila owner mengambil keputusan cepat,
itu berarti beliau berani mengambil keputusan.
Bila GM mengambil keputusan cepat,
itu berarti dia gegabah !

Bila owner terlalu berani ambil resiko,
itu berarti beliau risk-taking.

Bila GM terlalu berani ambil resiko,
itu berarti dia sembrono !

Bila owner tidak berani ambil resiko,
itu berarti beliau ‘prudent’.
Bila GM tidak berani ambil resiko,
itu berarti dia tidak berjiwa bisnis !

Bila owner mem-by-pass prosedur,
itu berarti beliau proaktif-inovatif.
Bila GM mem-by-pass prosedur,
itu berarti dia melanggar aturan !

Bila Owner curiga terhadap mitra bisnis,
itu berarti beliau waspada.
Bila GM curiga terhadap mitra bisnis,
itu berarti dia negative thinking !

Bila owner menyatakan :Sulit
itu berarti beliau prediktif-antisipat if.
Bila GM menyatakan :Sulit
itu berarti dia pesimistik !

Bila owner menyatakan :Mudah
itu berarti beliau optimis.
Bila GM menyatakan :Mudah
itu berarti dia meremehkan masalah !

Bila Owner sering keluar kantor,
itu berarti beliau rajin mencari kolega
Bila GM sering keluar kantor,
itu berarti dia sering kelayapan !

Bila Owner sering entertainment,
itu berarti beliau rajin me-lobby customer.
Bila GM sering entertainment,
itu berarti dia menghamburkan anggaran !

Bila Owner tidak pernah entertainment,
itu berarti beliau berhemat.
Bila GM tidak pernah entertainment,
itu berarti dia tidak bisa me-lobby customer !

Bila

owner men-service atasan,
itu berarti beliau me-lobby.
Bila GM men-service atasan,
itu berarti dia menjilat !

Bila owner sering tidak masuk,
itu berarti beliau kecapaian karena kerja keras.
Bila GM sering tidak masuk,
itu berarti dia pemalas !

Bila owner  minta fasilitas mewah,
itu berarti beliau menjaga citra perusahaan.
Bila GM minta fasilitas standar,
itu berarti dia banyak menuntut !

Bila owner membuat tulisan seperti ini,
itu berarti beliau humoris.
Bila GM membuat tulisan seperti ini,
itu berarti dia :
frustasi
iri thd karir orang lain
negative thinking
provokasi
– tidak tahan banting
barisan sakit hati
berpolitik di kantor
– tidak produktif
– tidak sesuai dengan budaya perusahaan

 

Just kidding…dont be seriously…

 

ha ha ha ….be smart man

 

September 9, 2008

Hello world!

Filed under: Uncategorized — by inan56 @ 2:52 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog di WordPress.com.